Memuliakan Ingatan
Foto-foto yang terpajang di dinding yang terbuat dari rotan seketika memunculkan rasa penasaran di hati Gunawan. Foto yang sudah kusam dengan pinggiran bingkai yang perlahan rapuh dimakan waktu. Mungkin foto-foto itu terlihat biasa saja tapi tidak dengan kenangannya, kenangan yang bisa dijadikan motivasi untuk bertahan hidup kedepannya. Kenangan itu luka, kenangan itu bahagia. Terkadang sakitnya luka kenangan harus dirasakan diri sendiri dan terkadang juga indahnya kebahagiaan dalam kenangan bisa dirasakan semua orang.
“Silahkan diminum nak, maaf hanya air putih”
Gunawan yang dari tadi fokus menjelajahi jejeran foto yang terpajang seketika dikagetkan dengan suara si pemilik rumah. Dua cangkir yang terbuat dari kaca bening sudah berada di atas meja dengan air putih di dalamnya.
“Maaf kek saya merepotkan” ucap Gunawan setelah duduk di kursi
“Tidak apa-apa nak Gunawan cuman air putih.”-Kakek Mawardi melepaskan topinya-“ silahkan diminum” lanjut Kakek Mawardi
“Sebenarnya saya mau minta maaf kek, saya akui tadi saya tidak fokus membawa motor sampai-sampai saya menabrak becaknya kakek” Gunawan menunduk dengan nada menyesal
Kakek Mawardi hanya tersenyum melihat tingkah gunawan yang terlihat sangat mengasihani dirinya
“Kenapa hanya tersenyum,kek?” tanya Gunawan yang merasa heran
“Kamu seorang wartawan kan?”
Pertanyaan Kakek Mawardi membuat Gunawan menatap lurus ke depan. Gunawan tidak memakai id card pers dan hanya membawa kamera tetapi seorang Kakek tua mengetahui pekerjaannya.
“Waktu dulu saya mengenal banyak orang seperti kamu. Tapi bedanya dulu belum ada yang memakai kamera canggih seperti yang kamu bawa itu” kata Kakek sambil tertawa memperlihatkan giginya yang hanya tinggal beberapa
Gunawan semakin merasa bingung, Kakek seolah ingin bercerita tentang masa lalunya setelah mengetahui pekerjaan Gunawan.
“Kan tidak semua yang membawa kamera disebut wartawan kek.”-Gunawan melihat kameranya-“bagaimana Kakek tau kalau saya wartawan?”
“Cara kamu menatap foto-foto itu terlalu dramatis. Seakan-akan kamu tau seperti apa kenangan yang ada di dalamnya. Ketelitian kamu melihat objek cukup menggambarkan profesi kamu”
Gunawan hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakan Kakek Mawardi. Gunawan hanyalah seorang wartawan biasa, wartawan yang dituntut untuk membuat para pembaca tertarik dengan berita atau gambarnya. Jadi tidak heran jika dia selalu memperhatikan sesuatu dengan baik.
“Tapi, tidak semua wartawan terlihat mempunyai sisi itu kan kek. Zaman sekarang profesi wartawan hanya sebatas pekerjaan, nilai-nilai atapun etika sebagai seorang tangan kanan rakyat masih kurang dipahami” Gunawan mencoba mematahkan pernyataan Kakek Mawardi
Kakek Mawardi kembali tersenyum.”Saya tidak membicarakan wartawan zaman sekarang tapi saya mencoba menyamakan kamu dengan wartawan yang ada di masa saya dulu”
“Apa foto yang terpajang itu diambil dari kamera dia kek?” tanya gunawan sambil menunjuk foto pernikahan kakek mawardi
“Betul, saya berharap setiap hari bahagia dalam hidup saya bisa diabadikan menggunakan kameranya.”-Kakek menunduk pelan-“Tapi setelah pernikahan itu, dia tewas di tangan Belanda” sambung Kakek
Gunawan paham siapa dan seperti apa sosok wartawan yang diceritakan Kakek Mawardi. wartawan perang. Wartawan yang pemberani. Wartawan yang memang sudah sepantasnya untuk dikenang. Ternyata foto-foto yang tadi ditatapnya memang benar mempunyai kenangan yang indah namun tragis.
“Dia dengan gagah dan percaya dirinya masuk ke markas Belanda hanya untuk mengambil gambar bagaimana suasana di sana dan disebar luaskan ke masyarakat. Siapa yang sangka, aksinya membuat sebagian besar masyarakat semakin semangat memperjuangkan bangsa”
Sejenak tak ada yang bersuara, sampai suara gesekan potongan bambu di setiap sisi rumah memecah keheningan malam itu. Meski pencahayaan di dalam rumah remang-remang, Gunawan masih bisa melihat bagaimana kesedihan masih dirasakan kakek setelah bercerita.
“Maaf sebelumnya kek. Kalau boleh tau kakek tinggal di rumah ini sendiri?”
Semenjak kedatangannya ke rumah ini, Gunawan belum melihat orang lain kecuali Kakek Mawardi.
“Istri saya sudah meninggal. Anak-anak saya pergi tidak tau kemana” kata Kakek sebelum menghabiskan minumnya
“maaf kek”
Gunawan semakin merasa bersalah. Kesedihan karna kenangan sahabatnya belum hilang, sekarang Kakek lagi-lagi harus bersedih karna kehilangan keluarganya
“Apa boleh saya mengambil gambar Kakek?” tanya Gunawan yang berusaha mengalihkan pembicaraan
Kakek tertawa.”buat apa, kisah ataupun fisik saya tidak pantas disebarkan kok!”
Gunawan tidak mengubris pernyataan Kakek, dia langsung mengambil kamera miliknya dan mengarahkan kepada Kakek. Tapi sebelum menakan tombol kamera Gunawan merasa ada yang terlewatkan. Pandangannya beralih ke album foto yang berada di bawah meja.
Rasa penasaran seorang wartawan memang tinggi. Tanpa abah-abah dari sang pemilik, Gunawan mengambil album itu dan melihat isinya.
“Ini pasti wartawan yang Kakek ceritakan kan?” tebak Gunawan setelah melihat gambar sosok pemuda dengan kamera tergantung di lehernya
“Kameranya berbeda kan dengan punya kamu” ucap Kakek sambil tersenyum
Gunawan melangkah ke lembar selanjutnya. Terlihat potret seorang pria muda dengan topi khas pejuang veteran. Tangan kirinya memegang senjata yang terbuat dari bambu dan tangan kanannya memegang bendera merah putih serta kepulan asap hitam yang menjadi latarnya. Sangat jelas bahwa orang itu adalah seorang pejuang kemerdekaan.
“Apa ini teman Kakek juga?” tanya Gunawan yang masih melihat foto itu
“Orang itu adalah saya”
Deg….lagi-lagi pernyataan Kakek membuat Gunawan menatap lurus ke depan tanpa berkutik.
Mengingat kembali bagaimana saat dia melihat Kakek Mawardi mengayuh becaknya. Mengingat kembali bagaimana rambut Kakek Mawardi yang semuanya memutih dengan sempurna, serta keriput di wajahnya yang semakin menjadi-jadi. Mengingat bagaimana Kakek Mawardi harus tinggal dengan kondisi rumah yang hampir rubuh. Mengingat bagaimana kehidupan Kakek Mawardi yang serba terbatas.
Mengingat semua itu sangat sulit mempercayai kenyataan bahwa sosok yang ada di depannya sekarang adalah seorang pejuang kemerdekaan.
Setelah Gunawan terkejut, selanjutnya Kakek Mawardi yang dibuat terdiam. Seorang wartawan yang sedang duduk di depannya seketika berdiri dengan posisi tegap dan memberi hormat. Baik Gunawan maupun Kakek Mawardi tak ada yang dapat membendung tangisan waktu itu.
Kakek Mawardi mengangkat kepala menatap gunawan.”terima kasih. Setelah sekian lama akhirnya ada yang mengakui saya. Semoga bangsa ini diberkati oleh tuhan yang maha esa.”
Penulis : Jaratimi Annisa