Media, Negara dan Tubuh yang Disunyikan

alanbantik- Ada jenis kekerasan yang tidak menjerit. Ia tidak meninggalkan darah di lantai. Tidak ada tubuh lebam. Tidak ada kamera televisi yang datang berkerumun. Kekerasan itu rapi. Administratif. Ditandatangani. Dicap kementerian. Disahkan parlemen. Lalu diberitakan sebagai kemajuan. Kekerasan itu bernama kebijakan.
Gagasan ini pertama kali terasa mengganggu saya dalam sebuah kelas daring Kajian Filsafat dan Feminisme beberapa waktu lalu. Diskusi berjalan tenang, nyaris akademik, namun tetap dinamis. Lalu satu kalimat jatuh seperti batu kecil di air: negara sering tidak sadar bahwa ia menyakiti perempuan. Bukan karena berniat jahat, melainkan karena gagal membaca bagaimana kebijakan menyentuh tubuh yang paling rentan. Negara tidak perlu memukul perempuan. Cukup merancang sistem yang membuat perempuan menyerap semua guncangan.
Negara dan Tubuh yang Selalu Menyerap Krisis
Wajah logika itu terlihat paling jujur pada isu stunting. Angka prevalensi menurun dan dirayakan sebagai kemajuan. Namun di balik persentase itu ada jutaan tubuh kecil yang tumbuh dengan fondasi rapuh. Di balik tubuh-tubuh itu ada ibu yang memikul beban yang jarang disebut.
Program makan bergizi adalah intervensi penting. Ia mengakui bahwa krisis gizi adalah masalah nasional. Tetapi pertanyaan feminis tidak berhenti pada efektivitas program. Ia bertanya dari mana luka dimulai. Stunting tidak dimulai di kantin sekolah. Ia dimulai di rahim.
Ia ditentukan oleh nutrisi ibu sebelum hamil, selama hamil, dan setelah melahirkan. Ia ditentukan oleh keamanan kerja perempuan, layanan kesehatan reproduksi, dan stabilitas ekonomi rumah tangga yang pertama kali ditanggung perempuan. Memberi makan anak tanpa memperkuat tubuh ibu berarti menyentuh permukaan sambil membiarkan akar luka tetap hidup.
Ekonomi modern bergantung pada kerja perawatan perempuan, namun enggan mengakuinya. Tubuh perempuan menjadi ruang tempat negara menyimpan krisisnya: gizi yang kurang, kerja yang tak dibayar, perlindungan yang tertunda. Dalam bahasa sederhana: negara memberi makan anak, tetapi lupa memberi makan ibu.
Media dan Cerita yang Membuat Kita Tenang
Kekerasan struktural menjadi berbahaya bukan hanya karena ia ada, tetapi karena ia diceritakan sebagai sesuatu yang wajar. Media sering memotret pembangunan dari ketinggian: proyek, grafik naik, peresmian. Dari ketinggian itu, tubuh perempuan menghilang, yang terlihat statistik, yang hilang pengalaman hidup.
Ketika perempuan kehilangan ruang hidup akibat proyek ekstraktif, berita lebih sibuk menghitung nilai investasi daripada jarak tempuh mencari air. Ketika ibu hamil tersingkir dari dunia kerja karena dianggap biaya, framing bergeser menjadi efisiensi. Kekerasan yang tidak dramatis tidak dianggap layak tayang.
Bandingkan dengan negara yang merancang kebijakan sejak fase prenatal: cuti orang tua berbayar, layanan kesehatan maternal yang kuat, dan pembagian tanggung jawab pengasuhan. Di sana negara tidak sekadar mendistribusikan bantuan. Ia merawat sistem. Malnutrisi dibaca sebagai persoalan sosial menyeluruh, bukan sekadar urusan piring.
Di banyak pemberitaan kita, kebijakan gizi tampil sebagai peristiwa distribusi, seolah negara hanyalah kurir makanan. Media merayakan program, tetapi jarang menagih fondasi. Ia membuat publik tenang karena sesuatu sedang dilakukan, tanpa bertanya apakah yang dilakukan menyentuh akar masalah. Di titik itu, media berhenti menjadi pengawas dan berubah menjadi penenang.
Rahim Politik dan Ukuran Sebuah Peradaban
Tubuh perempuan adalah titik paling awal tempat negara diuji. Dari rahimlah generasi lahir. Dari kerja perawatan perempuanlah masyarakat bertahan. Negara yang gagal melindungi perempuan sedang merusak fondasinya sendiri.
Pertanyaan kita bukan lagi apakah negara melakukan kekerasan. Pertanyaannya: mengapa kita terbiasa hidup di dalamnya?
Kekerasan itu tidak berbunyi. Ia hadir sebagai regulasi. Sebagai prosedur. Sebagai kebijakan yang tampak rasional. Selama pengalaman perempuan dianggap catatan kaki, selama media lebih setia pada proyek daripada pada tubuh, kekerasan struktural akan terus terlihat legal.
Feminisme tidak sekadar membela perempuan. Ia adalah cara membaca keadilan. Ia memindahkan pusat perhatian dari gedung negara ke dapur, dari rapat anggaran ke rahim, dari statistik ke pengalaman hidup. Ia mengingatkan bahwa kemajuan yang tidak terasa di tubuh perempuan bukan kemajuan, melainkan ilusi yang dirawat bersama.
Sejarah tidak pernah menilai peradaban dari jumlah bangunan yang berdiri. Sejarah menilai dari siapa yang dibiarkan menanggung beban. Jika tubuh perempuan terus menjadi tempat negara menabung krisisnya, gizi yang kurang, kerja yang tak diakui, perlindungan yang tertunda, maka pembangunan hari ini mungkin hanyalah cara paling sopan untuk menyebut kekerasan.
Kelak, ketika generasi yang lahir dari rahim yang disunyikan itu tumbuh membawa luka yang tak terlihat dalam statistik, kita mungkin akan bertanya: kapan tepatnya negara mulai gagal?
Mungkin yang paling berbahaya dari semua ini bukanlah kerasnya kebijakan, melainkan kemampuan kita untuk terbiasa hidup di dalamnya. Kita belajar membaca pembangunan sebagai angka, membaca kemajuan sebagai proyek, dan perlahan lupa membaca tubuh yang menanggung semua konsekuensinya. Setiap generasi akan mewarisi cara kita memperlakukan yang paling rentan. Jika hari ini tubuh perempuan disunyikan dari berita, dari anggaran, dari bahasa negara, maka yang kita wariskan bukan sekadar ketimpangan, melainkan ingatan kolektif bahwa ketidakadilan bisa berlangsung tanpa suara. Dan sebuah bangsa yang kehilangan kemampuan untuk mendengar tubuhnya sendiri, cepat atau lambat, akan kehilangan arah tentang apa arti kemajuan itu sendiri.
*)Penulis adalah Pemerhati, Peneliti bidang kajian Komunikasi dan Jurnalisme, Lingkungan, Gender, dan Budaya, sekaligus Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Email: tina.sanusi@uin-alauddin.ac.id
Penulis: Hartina Sanusi
Editor: Tim Redaksi
