Kematian, Kebenaran, dan Sunyi yang Terlupakan

alanbantik- Bagi sebagian orang, kematian adalah akhir. Titik. Tapi bagi saya, kematian justru membuka ruang sunyi, tempat pikiran-pikiran terdalam muncul tanpa diundang. Terutama jika yang berpulang bukan sekadar nama asing yang mampir di lini masa media sosial, tapi seseorang yang saya kenal: wajahnya akrab, suaranya pernah mengisi ruang percakapan, jejaknya tertinggal di banyak ingatan.
Jumat pagi itu, seorang dosen senior, kolega pengajar, sekaligus guru bagi saya, berpulang. Kabar itu menghentak. Bukan karena ia datang tiba-tiba—kematian memang selalu tiba-tiba—melainkan karena kesenyapan yang ditinggalkannya begitu luas. Sepanjang perjalanan pulang, kepala saya dipenuhi ingatan lama: kematian demi kematian yang pernah saya saksikan, alami, dan simpan diam-diam. Menuliskan ini pun terasa tertahan. Sebab ia bukan sekadar cerita, melainkan sisa perasaan tentang kematian yang belum selesai diurai.
Kematian Tak Pernah Sekadar Soal Usia
Kematian, kata orang bijak, tidak mengenal urutan. Ia tidak menunggu tua. Tidak pula menunggu sakit. Ia datang ketika waktunya tiba, dan manusia hampir tak pernah benar-benar siap. Saya menyaksikannya sendiri: keluarga, sahabat, teman, tetangga, rekan kerja, hingga bapak saya. Satu per satu pergi, meninggalkan ruang yang tak bisa ditambal.
Islam mengajarkan bahwa kematian adalah keniscayaan. Namun lebih dari itu, ia adalah pengingat. “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan: kematian,” sabda Nabi. Bukan agar hidup menjadi muram, melainkan agar manusia sadar batas. Bahwa kita tidak akan tinggal selamanya di dunia ini. Kesementaraan seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan.
Namun manusia kerap menolak yang tak bisa dikendalikan. Kematian adalah salah satunya. Maka kita menyingkirkannya dari percakapan, menghindari tafsirnya, menutupinya dengan rutinitas dan pencapaian. Padahal justru di situlah letak kerentanannya: hidup tanpa kesadaran akan kematian membuat kita lupa arah pulang.
Anehnya, kematian yang seharusnya mengajarkan kefanaan justru membuat kita kebal. Kita menjadi generasi yang terbiasa kehilangan, tapi perlahan kehilangan rasa. Air mata masih jatuh, tetapi tak lagi membasuh. Kesedihan menjadi rutinitas, bukan perenungan. Yang hilang bukan hanya orang-orang tercinta, melainkan juga kesakralan itu sendiri. Kita fasih mengirim ucapan duka, menghadiri pemakaman, tapi asing pada makna kematian. Kematian lewat begitu saja, tanpa menggetarkan. Padahal yang paling berbahaya dari kematian bukanlah bahwa ia datang, melainkan bahwa kita tak lagi merasakan apa-apa ketika ia tiba.
Ketika Kebenaran Bisa Mematikan
Ingatan tentang kematian membawa saya ke ruang lain: ruang jurnalisme. Tentang mereka yang gugur bukan karena usia, melainkan karena keyakinan. Para jurnalis yang dibunuh karena membawa catatan kebenaran yang tak disukai kekuasaan.
Profesi jurnalis, sejatinya, adalah jalan sunyi yang mulia, menjaga nurani publik, menyuarakan yang tak terdengar, dan menolak lupa. Demikian pula profesi dosen dan akademisi. Mereka menanamkan pengetahuan, merawat nalar kritis, dan menjaga ruang bertanya agar tetap hidup. Namun di zaman ketika kebenaran sering diperlakukan sebagai ancaman, profesi-profesi ini berdiri dalam ketegangan yang sama. Di dunia yang takut pada cahaya, kebenaran bisa berujung kematian.
Tahun-tahun terakhir menjadi masa paling gelap bagi jurnalisme. Puluhan jurnalis tewas di wilayah konflik, di Gaza, Ukraina, Suriah, bukan sebagai kombatan, melainkan sebagai saksi. Kamera mereka dihancurkan. Tubuh mereka ditargetkan. Nama mereka muncul sebentar di berita, lalu menghilang. Dunia lebih sering membungkam saksi daripada mendengarkan kesaksiannya.
Hal serupa dialami para akademisi di banyak tempat: tekanan, pembungkaman, bahkan kriminalisasi ketika ruang kritis dianggap berbahaya. Mereka tahu risikonya, namun tetap bertahan. Sebab menjadi jurnalis atau akademisi bukan sekadar profesi, melainkan panggilan moral: menjaga agar suara yang kecil tetap terdengar, agar kebenaran, meski rapuh, tidak sepenuhnya padam.
Al-Qur’an memberi penghormatan bagi mereka yang gugur di jalan kebenaran. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka, mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169). Barangkali inilah bentuk kesyahidan di zaman modern: mati karena menolak tunduk pada kebohongan.
Sunyi yang Tak Lagi Sakral
Dalam khazanah Islam, para pemikir besar—Imam al-Ghazali, Ibn Qayyim, Imam Nawawi—memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan awal kehidupan sejati. Dalam Kimiya as-Sa‘adah, al-Ghazali menulis bahwa mengingat mati bukan berarti membenci dunia, tetapi menempatkan dunia pada posisinya: sebagai jembatan, bukan tujuan.
Saya teringat satu malam di ruang keluarga, beberapa hari setelah bapak saya meninggal. Sunyi sekali. Namun di dalam sunyi itu, ada damai yang aneh. Seolah beliau tidak benar-benar pergi, hanya berpindah, meninggalkan dunia yang sempit menuju keluasan rahmat Allah.
Rasa itu kembali setiap kali saya melepas orang-orang tercinta. Tetapi di dunia yang serba cepat dan gaduh, ruang bagi sunyi semacam itu kian menyempit. Kematian berubah menjadi berita harian, bukan bahan perenungan. Kita lupa bahwa setiap kepergian bukan hanya kehilangan, melainkan juga pesan.
Hidup, pada akhirnya, bukan soal panjangnya napas, melainkan bagaimana kita memaknai tarikan terakhirnya. Kita sibuk menanam pohon-pohon pencapaian, seolah tanah tempat berpijak tak akan runtuh. Padahal al-Ghazali telah lama mengingatkan: “Dunia adalah jembatan. Lewatilah, tapi jangan kau bangun rumah di atasnya.”
Namun kita justru mendirikan istana di atas jembatan yang rapuh, lalu heran ketika semuanya runtuh. Kita lupa: hidup ini bukan milik mereka yang lama tinggal, melainkan milik mereka yang tahu ke mana hendak pulang.
*)Penulis adalah Pemerhati, Peneliti bidang kajian Komunikasi dan Jurnalisme, Lingkungan, Gender, dan Budaya, sekaligus Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Email: tina.sanusi@uin-alauddin.ac.id
Penulis: Hartina Sanusi
Editor: Tim Redaksi
