Dari Cedar Lebanon ke Sidratul Muntaha: Menunduk untuk Tumbuh
alanbantik- Siang itu ruang dosen Prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi terasa lengang. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, memantul di meja besi persegi panjang beralas kaca, tertutup taplak tua yang warnanya memudar dimakan waktu. Percakapan berlangsung ringan, jenis obrolan yang biasanya lewat begitu saja tanpa bekas. Namun percakapan jarang benar-benar ‘biasa saja’ ketika melibatkan seorang guru besar kajian Dakwah dan Pemikiran Islam. Saya menyimak, hingga terucap satu istilah, ‘sidratul muntaha’, udara seolah berhenti sejenak.
Saya tidak langsung merespons. Kata itu menggantung. Dalam kisah isra’ mi’raj, sidratul muntaha adalah batas paling akhir perjalanan Nabi Muhammad Saw. Bahkan malaikat Jibril berhenti di sana. Bukan karena tak mampu melanjutkan, melainkan karena ada wilayah yang tidak boleh, dan tidak perlu ditembus. Sebuah garis yang menandai perbedaan antara kemampuan makhluk dan kemahakuasaan Tuhan.
Kesadaran tentang batas terasa asing di dunia hari ini. Kita hidup di zaman yang justru menganggap batas sebagai tantangan yang harus dihancurkan. Tidak ada cukup, tidak ada selesai, tidak ada berhenti. Pikiran saya melompat pada pohon lain yang sering muncul dalam sastra Khalil Gibran: cedar Lebanon. Dua pohon dari dua tradisi yang berbeda, namun sama-sama berbicara tentang manusia yang berhadapan dengan dirinya sendir
Tulisan ini bukan sekadar refleksi simbolik. Melainkan upaya membaca ulang apa yang sebenarnya sedang dihadapi masyarakat global saat ini, sebuah peradaban yang terus melaju tanpa rem.
Dua Pohon, Dua Logika Peradaban
Cedar tumbuh kokoh di pegunungan Lebanon. Ia tinggi, tahan badai, berakar dalam. Dalam karya Gibran, cedar sering menjadi lambang keteguhan jiwa. Namun keteguhan itu bukan keras kepala. Dalam The Broken Wings, cedar justru digambarkan sebagai makhluk yang bertahan karena tahu cara menyesuaikan diri. Ia tidak menolak angin, ia belajar menyalurkan beban ke cabang lain. Ada kelenturan di balik kekokohannya. Kekuatan, dalam pengertian ini, bukan kemampuan melawan badai, melainkan kesanggupan hidup setelahnya.
Sidratul muntaha berbicara lebih jauh lagi. Ia bukan tentang bertahan, melainkan tentang mengetahui titik henti. Dalam tafsir simboliknya, pohon sidrah dipahami sebagai lambang kebijaksanaan tertinggi yang bisa dicapai manusia. Setelah itu, yang tersisa bukan lagi logika atau kemampuan akal, melainkan penyerahan. Ia adalah pengingat bahwa tidak semua wilayah harus dikuasai. Ada ruang yang hanya bisa didekati dengan kerendahan hati.
Dari dua pohon itu terbentang dua logika peradaban: dorongan untuk terus naik, dan kesadaran untuk berhenti.
Dunia Tanpa Kedalaman
Kita hidup di zaman yang gemar berlomba ke permukaan. Dunia digital memberi panggung tanpa jeda. Manusia modern semakin sibuk menata citra, mengukur nilai diri lewat angka, dan memburu visibilitas seolah ia satu-satunya bentuk keberadaan. Popularitas dipanen lebih cepat daripada kebijaksanaan. Kedalaman terasa seperti kemewahan yang tidak sempat dirawat.
Teknologi kecerdasan buatan berkembang dengan kecepatan yang bahkan para pengembangnya sendiri sulit memetakan sepenuhnya. Mesin semakin cerdas, sementara manusia semakin jarang bertanya apakah semua yang mungkin dilakukan memang perlu dilakukan. Di layar-layar kita, perang ditampilkan sebagai statistik. Gaza dan Ukraina menjadi peta konflik, bukan lagi wajah manusia. Krisis iklim berubah menjadi grafik kenaikan suhu, bukan lagi cerita hutan yang hilang dan laut yang kelelahan.
Di tengah simulasi tanpa henti ini, manusia merasa bebas padahal digerakkan oleh algoritma yang tak terlihat. Kita bergerak cepat, tapi jarang berhenti untuk bertanya: ke mana sebenarnya kita menuju?
Slavoj Žižek, filsuf kontemporer yang tajam membaca ironi zaman, mengkritik keras kecenderungan manusia modern yang hidup dalam ilusi kesadaran. Dalam pandangannya, kita tak lagi hidup di dunia nyata, melainkan di semesta simulasi, simbol, dan representasi yang saling menipu. “We feel free because we lack the language to articulate our unfreedom,” tulisnya. Kita merasa merdeka padahal terperangkap dalam logika pasar, algoritma, dan performativitas sosial yang nyaris tak disadari.
Barangkali di sinilah sidratul muntaha kembali relevan. Ia bukan kisah masa lalu yang jauh di langit. Ia adalah metafora tentang batas yang perlu disadari manusia modern. Batas yang bukan musuh, melainkan penuntun. Dalam tradisi Islam, kemuliaan tertinggi justru hadir dalam sujud. Tubuh menunduk, ego merendah, dan di situlah manusia menemukan ukurannya yang sebenarnya
Menunduk untuk Tumbuh
Kita tidak kekurangan pohon yang tinggi. Dunia hari ini penuh dengan sosok yang menjulang di panggung digital, opini yang riuh di ruang publik, dan narasi yang berebut perhatian. Namun semakin banyak yang ingin naik, semakin sedikit yang bersedia menunduk. Padahal menunduk bukan tanda kalah. Ia adalah cara tumbuh tanpa kehilangan akar.
Seperti sidrah yang berhenti di hadapan batas Ilahi, dan seperti cedar yang selamat karena lentur menghadapi badai, manusia bertahan bukan karena keras kepala, tetapi karena tahu kapan harus tunduk. Di antara keinginan untuk dikenal dan kebutuhan untuk mengenal diri, ada ruang hening yang sering kita abaikan. Di sanalah spiritualitas bukan slogan, melainkan perjalanan.
Saya kembali mengingat ruang dosen siang itu. Percakapan telah lama selesai. Kursi-kursi kembali diam. Namun satu kata tetap tinggal, bekerja perlahan di dalam pikiran: sidratul muntaha. Dari sana terbuka jalan sunyi yang mengingatkan bahwa akar paling kokoh tidak tumbuh dari kegaduhan, melainkan dari keheningan.
*)Penulis adalah Pemerhati, Peneliti bidang kajian Komunikasi dan Jurnalisme, Lingkungan, Gender, dan Budaya, sekaligus Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Email: tina.sanusi@uin-alauddin.ac.id
Penulis: Hartina Sanusi
Editor: Tim Redaksi
