Aliansi DEMA UINAM Gelar Aksi, Desak Penyelesaian Sejumlah Persoalan Kampus

alanbantik – Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) melakukan aksi demonstrasi di depan gedung Rektorat, Selasa 9 Juni 2026.
Aksi tersebut berlangsung sebagai bentuk pengawalan terhadap isu tahunan yang terjadi di kampus UIN Alauddin Makassar. Massa aksi menilai kampus belum menunjukkan langkah penyelesaian yang memadai sehingga isu yang sama terus berulang selama 3 tahun terakhir.
Dalam tuntutannya, massa aksi menyuarakan berbagai isu mulai dari SE yang membatasi kebebasan akademik, transparansi kebijakan kampus, polemik UKT-BKT, dugaan kriminalisasi aktivis mahasiswa, hingga persoalan keamanan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Berdasarkan pantauan reporter alanbantik, massa berkumpul di depan rektorat pada pukul 14.00 WITA dan secara bergantian menyampaikan orasi. Namun, hingga aksi selesai, pihak pimpinan kampus belum memberikan tanggapan langsung.
Isu Tahunan Minim Tanggapan
Presiden Mahasiswa ( Presma) UIN Alauddin Makassar, Aqil Abdan Syakuran, menilai berbagai persoalan yang disuarakan dalam aksi tersebut terus berulang karena minimnya tindak lanjut dari pihak kampus.
Menurutnya, sejumlah tuntutan telah disampaikan mahasiswa selama beberapa tahun terakhir, namun hingga kini belum menunjukkan mekanisme penyelesaian yang jelas dari pimpinan universitas.
“Permasalahannya di atas, dia selalu melempar permasalahan kepada yang lain. Contoh misalnya Warek 3, nanti dia hanya akan berikan alasan saya bukan pimpinan, saya tidak bisa memutuskan.” Ucapnya saat diwawancara langsung. Selasa, 9 Juni 2026.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal DEMA UINAM, Saldiansyah Rusli berharap pimpinan kampus dapat membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan memberikan perhatian terhadap berbagai temuan yang disampaikan dalam aksi tersebut.
“Saya rasa perlu kita untuk lebih tajam lagi, kalau tidak ada respon dari pimpinan untuk RDP (rapat dengar pendapat) di hari kamis, kita undang rektor dan kementerian agama minimal untuk dialog terbuka di kampus”. Ucapnya saat diwawancara via telepon.
Demonstrasi di tengah bayang-bayang SE 3652
Sejak diedarkan, SE 3652 menjadi polemik di kalangan mahasiswa sebab membatasi kebebasan berekspresi di lingkup kampus dan dalam aksi penolakannya, terdapat beberapa mahasiswa yang diskosring, sehingga kebijakan tersebut masih menjadi perhatian dalam berbagai aktivitas gerakan mahasiswa.
Meski demikian, Presma UINAM menilai ketakutan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.
“Kenapa mahasiswa takut, karena ada fakta empiris yang sudah diberikan dua tahun yang lalu. Tapi nyatanya tahun kemarin tidak ada yang diskorsing ketika turun aksi. Hari ini juga tidak ada yang diskorsing gara-gara aksi di depan rektorat.” Ujarnya.
Penulis: Muhammad Fajar Fathoni Ihsan dan Sitti Annisa Ahmad (Reporter)
Editor: Tim Redaksi
